Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1036431/public_html/wp-content/plugins/elementor-pro/modules/dynamic-tags/tags/post-featured-image.php on line 36
Mengapa Sekolah Legendaris Ini Sekarang Sepi Siswanya (Bagian 2) - KPI Indonesia

Mengapa Sekolah Legendaris Ini Sekarang Sepi Siswanya (Bagian 2)

Sebelum kita bahas 4 Fundamental Thinking yg harus dimiliki oleh seluruh warga sekolah, khususnya ketua pembina, ketua pengurus yayasan dan pimpinan sekolah yakni 1. Continuous improvement, 2. Innovation, 3. Quality culture, 4. Customer satisfaction. Saya mau membahas dulu pernyataan pak sekdes, “Sekarang siswanya sepi, mas. Sejak tahun 2010, siswanya nggak kramut, mas.”

Baca Bagian 1

Mendatangkan vs Mencari Siswa

Mendapatkan siswa yg sesuai kualifikasi dan memenuhi target jumlah sesuai kuota merupakan ukuran kinerja tim PPDB sekolah swasta.

Pekan lalu, saya ke salah satu SMP swasta di kepulauan Riau. Support yayasan terhadap sekolah ini sangat besar. Gedung sekolahnya juga megah, tapi siswanya kok tidak memenuhi pagu yg tersedia. Saya, dalam hati bertanya-tanya, “mengapa sekolah ini, nggak dapat banyak siswa ? Padahal sekolah dg brand yg sama di tempat lain lagi jadi rebutan.,” Saya dg tim selama 2 hari mencari jawabannya.

Ada 2 konsep terkait dg PPDB. Konsep “mendatangkan siswa” dan konsep “mencari siswa“.

Konsep “mendatangkan siswa” saya peroleh tahun 2002. Saat itu, saya sedang kuliah magister manajemen pendidikan. Saya dilibatkan dalam tim pendirian SD di Gresik.

Saya dan tim dari Gresik, melakukan kunjungan ke Al Hikmah Surabaya dan diskusi di sana. Penting untuk diketahui, SD Al Hikmah itu tahun pertama hanya 13 siswa, proses pembelajarannya di emper masjid, tapi tahun ketiga siswa ratusan dan sudah menolak banyak siswa. Saat diskusi yg membahas PPDB, Saya diberi satu pertanyaan,”sekolah itu mahal dulu, baru berkualitas atau berkualitas dulu baru mahal ?“.

Kalau Anda sebagai pengurus yayasan pilih yg mana ?

Kalau Anda memilih berkualitas dulu, maka Anda menggunakan konsep mendatangkan siswa. Kalau Anda pilih mahal dulu, maka Anda menggunakan konsep mencari siswa. Dua-duanya sah-sah saja.

Konsep mendatangkan siswa menuntut adanya pembina dan pengurus yayasan sebagai leader yang visioner, memiliki misi yang jelas, mampu mengumpulkan resources yang dibutuhkan sekolah khususnya finansial, SDM dan sistem. Sekolah dituntut untuk melakukan layanan yang berkualitas yg mencakup 5 dimensi, yaitu :

1. Tangible
2. Reliability
3. Emphaty
4. Responsiveness
5. Assurance

Penjelasan aplikatifnya khusus di sekolah bisa baca buku saya, Dejavu Kepala Sekolah

Berikutnya, kita bahas konsep “mencari” siswa.

Sejak Desember 2018, saya diminta membantu salah satu SMA swasta di Surabaya. SMA yg berdiri tahun 1954. Letak SMA ini di tengah kota. Era 90 an menjadi rebutan para siswa. Dalam mendampingi SMA ini selama 6 bulan, sy hanya mendengar dan melihat langsung satu demi satu proses yg ada di sekolah tersebut.

Saya mendapatkan kesimpulan sekolah ini tidak memenuhi kreteria yg dituntut oleh konsep “mendatangkan” siswa seperti yg telah saya jelaskan di atas. Yayasan sekolah ini saya dorong menggunakan konsep “mencari” siswa.

Syaratnya punya tim humas/marketing dan budget untuk aktivitas marketing sekolah. Tahapan mencari siswa, saya singkat PEPS. Yaitu Pendataan, Edukasi, Promosi, dan Seleksi.
Pada konsep “mencari” siswa dituntut juga yayasan membangun brand positioning sekolah.

(Bersambung)

Dr. Shobikhul Qisom, M.Pd
Professional Education Coach

Bagikan Artikel :

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on pinterest
Pinterest

2 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

AKM Harapan Baru Pendidikan Indonesia

Beberapa waktu terakhir dunia pendidikan di Indonesia dikenalkan dengan yang namanya Asesmen Nasional ( AN ) dan membawa serta anak turunan nya yaitu AKM. Awalnya …

Read More →

Excellent Services, Keniscayaan Bagi Lembaga Pendidikan

Saya pernah melakukan pemetaan mutu sebuah yayasan Pendidikan, sesuai jadwal yang dikirimkan ke yayasan tersebut, kegiatan akan di mulai jam 08.00 WIB. Saya dan tim …

Read More →

Orang Tua bukan Guru, Bisakah Mengajar Anak di Rumah?

Banyak sekali orang tua yang mengeluh kesulitan mengajar anak-anaknya karena bukan seorang guru. Padahal, begini seharusnya.

Read More →